//
you're reading...
bimbingan karier x

BAB III STRATEGI PEMAHAMAN DIRI

A.    Arti Strategi Pemahaman Diri

Dalam konsep Dillard (1985), Yos and Corbishley (1987), dan Sharf (1992) yang dimaksud dengan pemahaman diri adalah proses memahami berbagai karakteristik diri. Istilah memahami mengandung makna bukan sekadar mengetahui, tetapi mampu menjelaskan, menilai, menganalisis, bahkan menyintesiskan berbagai karakteristik diri. Karakteristik diri yang perlu dipahami karena erat kaitannya dengan karir masa depan adalah karakteristik fisik, kamampuan dasar umum (IQ), kemampuan dasar khusus (bakat), minat, dan prestasi (achievement).

 

B.    Strategi Pemahaman Diri

1.    Memahami karakteristik fisik

Fisik merupakan salah satu faktor penting yang perlu dipahami dan dijadikan dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan karir atau berkarir. Tercakup ke dalam faktor fisik yang perlu dipahami, antara lain, tinggi dan berat badan, bentuk tubuh, dan kesehatan tubuh. Pentingnya faktor fisik tersebut dipahami terkait erat dengan berbagai variabel diri yang dapat berpengaruh pada perkembangan seseorang, lebih-lebih pada perkembangan karir masa depannya. Berkaitan dengan karir masa depan, hampir semua bidang pekerjaan mensyaratkan adanya kriteria faktor fisik tertentu. Misalnya, untuk menjadi pramugari diperlukan fisik yang relatif tinggi dengan tingkat kesehatan yang relatif stabil.

2.    Memahami kamampuan dasar umum (IQ)

Kemampuan dasar umum atau IQ (Intelligence Quotion) adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah dengan cepat. Jika kreativitas merupakan kemampuan memecahkan masalah secara divergent, yakni dengan menggunakan kemampuan berpikir dari berbagai arah, kecerdasan dalam arti intelligence merupakan kemampuan memecahkan masalah secara konvergent, yakni kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan berpikir memusat dan mendalam.

Inteligensi dibawa secara hereditas atau keturunan dan dipengaruhi oleh lingkungan. Ini berarti inteligensi tidak mungkin berkembang dengan optimal tanpa lingkungan. Namun ukuran inteligensi tidak bisa diubah oleh lingkungan. Jadi, lingkungan hanya bersifat sebagai fasilitator perkembangan inteligensi dan tidak dapat mengubah ukurannya.

Berikut ini adalah klasifikasi inteligensi.

  • Di atas 140                  Genius
  • 130 – 140                      Sangat superior (gifted)
  • 120 – 130                      Superior (rapid learning)
  • 110 – 120                      Cerdas (di atas rata-rata)
  • 90 – 110                         Normal (Average)
  • 80 – 90                           Dull normal (kurang cerdas)
  • 70 – 80                           Borderline (slow learning)
  • 50 – 70                           Debil (educable)
  • 25 – 50                           Imbesil (trainable)
  • Di bawah 25                Idiot (dependent)

 

Rumus untuk menentukan inteligensi (kecerdasan) seseorang adalah sebagai berikut.

IQ =   MA  x 100

CA

 

 

 

 

 

Keterangan :

IQ (Intelligence Quotien)               = Inteligensi (kecerdasan)

MA (Mental Age)                             = Umur Mental

CA (Cronological Age)                    = Umur Kalender

100                                                         = Bilangan Tetap

MA diperoleh dari skor tes inteligensi.

CA ditentukan berdasarkan bulan dan tahun individu itu dilahirkan.

 

Tes inteligensi biasanya dilakukan oleh para ahli psikologi yang disebut dengan psikolog atau oleh konselor yang mendapat kewenangan untuk melakukannya.

Berikut ini adalah ciri perilaku nyata individu (siswa) yang memiliki IQ tinggi atau 120 ke atas.

   membaca pada usia lebih muda

   membaca lebih cepat dan lebih banyak

   memiliki perbendaharaan kata yang luas

   mempunyai rasa ingin tahu yang kuap

   mempunyai minat yang luas, juga terhadap masalah ”dewasa”

   mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri

   menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal

   memberi jawaban-jawaban yang baik

   dapat memberikan banyak gagasan

   luwes dalam berfikir

   terbuka terhadap stimulasi dari lingkungan

   mempunyai pengamatan yang tajam

   dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati

   berfikir kritis, juga terhadap diri sendiri

   senang mencoba hal – hal baru

   mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi dan sintesis yang tinggi.

   senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah

   cepat menangkap hubungan sebab akibat

   berperilaku terarah kepada tujuan

   mempunyai daya imajinasi yang kuat

   mempunyai banyak kegemaran (hobi)

   mempunyai daya ingat yang kuat

   tidak cepat puas dengan prestasinya

   peka (sensitif) dan menggunakan firasat (intuisi)

   menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.

 

Pengetahuan tentang ciri perilaku siswa dengan IQ tinggi amat penting dalam kerangka pembelajaran di sekolah, termasuk dalam penyelenggaraan bimbingan karir. Bagi siswa dengan IQ tinggi dimungkinkan untuk diikutsertakan dalam model pembelajaran enrichment, yakni model pembelajaran pengayaan untuk memberi peluang kepada siswa mengembangkan diri sesusai dengan kapasitas IQ nya yang tinggi.

 

3.    Memahami kemampuan dasar khusus (bakat)

Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Perbedaan itu terletak pada jenis bakat, yang satu berbakat musik, yang lain berbakat mengoperasikan angka-angka, dan yang lain lagi berbakat teknik. Selain itu, perbedaannya terletak pula pada derajat atau tingkat pemilikan bakat tertentu.

Bakat (aptitude) adalah kemampuan bawaan yang berpotensi untuk dikembangkan atau dilatih (Conny Semiawan, dkk. 1984). Ia menegaskan juga bahwa bakat merupakan kemampuan yang inherent (telah ada dan menyatu) dalam diri seseorang sejak lahir dan terkait dengan struktur otak.

Kemampuan itu biasanya dikaitkan dengan tingkat intelegensi seseorang yang mencakupi pengertian hasil perkembangan semua fungsi otak, terutama apabila kedua belahan otak kanan ataupun kiri berkembang seimbang dan optimal.

Seseorang dapat diketahui dan ditentukan bakatnya melalui tes, yang disebut tes bakat. Tes bakat dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu  (1) tes bakat umum dan (2)  tes bakat khusus. Tes bakat umum dirancang untuk mengungkap bakat dalam jangkauan yang lebih luas, terutama kaitannya dengan tugas-tugas atau pekerjaan sekolah. Tes bakat khusus antara lain tes bakat musik, bakat seni, bakat mekanika, dan bakat klerikal.

Jenis tes bakat yang sering digunakan sampai saat ini adalah DAT (Defferential Aptitude Tes), tes bakat pembedaan. Dengan tes ini seseorang dapat diketahui bakatnya, misalnya bakat seni, bakat berbahasa, dan bakat eksak. Tes bakat ini biasa dilakukan oleh psikolog dan konselor, seperti pada tes intelegensi. Namun guru secara kasar atau sederhana, juga bisa menentukan siswa yang berbakat, dengan cara menganalisis prestasi belajarnya melalui penilaian portofolio. Dengan portofolio dapat diketahui nilai-nilai pelajaran yang paling baik. Umpamanya, nilai terbaik pada pelajaran matematika, maka siswa tersebut bisa ditentukan secara sementara memiliki bakat matematika atau eksak. Agar penilaian itu lebih akurat siswa harus di tes dengan tes bakat DAT atau jenis tes lainnya.

Melalui tes DAT dapat dideteksi tujuh bakat berikut ini.

1.    Bakat berbahasa (verbal comprehension).

2.    Bakat mengingat (Memory)

3.    Bakat berpikir logis (Reasoning)

4.    Bakat pemahaman ruang (Spatial Faktor)

5.    Bakat bilangan (Numerical Ability)

6.    Bakat menggunakan kata-kata (Wored Fluency)

7.    Bakat mengamati dengan cepat dan cermat (Perceptual Speed)

 

4.    Memahami minat

a)      Arti Minat adalah ketertarikan seseorang terhadap objek tertentu. Berbeda dengan inteligensi dan bakat, determinan perkembangan minat adalah faktor lingkungan. Akibatnya, minat cenderung berubah-ubah sesuai dengan tuntutan lingkungan, kecuali jika individu sudah memiliki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan diri pada objek yang diminatinya.

Dalam kaitannya dengan karir, menurut Dillard (1985 : 6) minat berperan penting untuk mengarahkan pilihan karir seseorang. Jika terjadi komplikasi pada minat, individu cenderung kesulitan dan ragu dalam mengambil keputusan karir. Jika keputusan karir diawali dengan keraguan, perjalanan karir individu cenderung mengalami masalah. Oleh karena itu untuk mendapatkan keputusan karir yang tepat asesmen terhadap minat sangat penting.

Minat seseorang dapat dikatahui melalui tes minat. Misalnya melalui tes minat yang dikembangkan oleh Kuder (Dillard, 1992 : 6), yang kemudian dikembangkan oleh Laboratorium PPB FIP UPI dengan nama Skala Minat Pekerjaan. Melalui tes ini dapat diketahui beberapa area minat kerja seseorang, yakni sebagai berikut ini.

1. Outdoor

2. Mechanical

3. Computative

4. Scientific

5. Persuasive

6. Artistic

7. Literary

8. Musical

9. Social service

10. Clerical

 

b)      Teori Vocational Personality dari John Holland (1985) tentang Kualifikasi Minat Karir, Menurut teori ini, terdapat enam tipe kepribadian vocational, dari ke-enam tipe ini, seseorang dapat memiliki profil pilihan karir yang unik sesuai dengan minat dan kepribadiannya.  Di bawah ini dijelaskan rincian setiap tipe berikut definisinya

1) Realistic

Individu dengan minat realistic menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang bersifat praktis, cepat menangkap masalah dan mencari solusinya.  Mereka menikmati bekerja dengan tanaman, hewan, dan material-material lain yang terlihat, seperti kayu, mesin, alat, dll.  Mereka juga menyukai kegitan luar ruang.  Seringkali individu dengan minat realistic tidak menyukai pekerjaan yang terutama melibatkan paper-work atau pekerjaan yang banyak berhubungan dengan orang lain.

Contoh Profesi/Pekerjaan untuk tipe Realistic: Pakar komputer, ahli mesin, petani modern, pilot, militer, ahli listrik, montir profesional, atlet profesional, dan pekerjaan lain yang sejenis.

2) Investigative

Individu dengan minat investigative menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang lebih banyak membutuhkan pemikiran mendalam, mereka juga menyukai bekerja dengan ide dan kekuatan berpikir daripada melakukan aktivitas kerja fisik.  Tipe ini menikmati mencari fakta-fakta dan menganalisis masalah secara internal (aktivitas mental) daripada melakukan aktivitas mem-persuasi atau mengarahkan orang lain.

Contoh Profesi/Pekerjaan untuk tipe Investigative: Fisikawan, biolog, kimiawan, matematikawan, antropolog, analis program, evaluator, peneliti, penulis, konsultan, dan pekerjaan lain yang sejenis.

3) Artistic

Individu dengan minat artistic menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang berhubungan dengan sisi artistik dari sesuatu hal/benda/obyek, seperti bentuk, desain, dan pola-pola.  Mereka menyukai mengekspresikan diri dalam pekerjaan mereka.  Tipe ini lebih suka mengatur dan menyusun pola kerja mereka sendiri tanpa mengikuti seperangkat aturan yang baku.

Contoh Profesi/Pekerjaan untuk tipe Artistic: Aktor/aktris, pekerja film/TV,musikus, kartunis, pencipta lagu, penyair, penari dan pekerjaan lain yang sejenis.

4) Social

Individu dengan minat social menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang berhubungan dengan individu lainnya.  Mereka senang membantu dan memajukan orang lain. Selain juga, giat berupaya agar orang tersebut mau mengembangkan diri.  Mereka lebih suka berkomunikasi dengan orang lain daripada bekerja dengan obyek, mesin, atau data.  Mereka suka mengajar, memberikan saran, membantu, atau dengan kata lain memberikan pelayanan pada orang lain.

Contoh Profesi/Pekerjaan untuk tipe Social: Guru/dosen, pekerja sosial, public relation, konselor, misionaris, psikolog, dokter, terapis, dokter, dan pekerjaan lain yang sejenis

5) Enterprising

Individu dengan minat enterprising menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang bersifat memulai sesuatu atau membangun dari awal (start-up), termasuk juga melaksanakan proyek. Tipe ini menyenangi hal-hal yang ‘berbahaya’, terutama dalam bisnis.  Disamping itu, mereka juga suka meyakinkan dan memimpin orang lain dan senang membuat keputusan.  Mereka menyukai mengambil resiko untuk mendapatkan keuntungan. Tipe ini lebih menyukai segera mengambil tindakan daripada berpikir mendalam.

Contoh Profesi/Pekerjaan untuk tipe Enterprising: Pengusaha, pimpinan eksekutif perusahaan, pedagang, dan pekerjaan lain yang sejenis.

6) Conventional

Individu dengan minat conventional menyukai aktivitas-aktivitas kerja dengan aturan main yang jelas.  Mereka menyukai prosedur dan standar, dan tidak bermasalah dengan rutinitas.  Tipe ini lebih suka bekerja dengan data dan detail daripada bermain dengan ide.  Mereka juga lebih menyenangi pekerjaan dengan standar yang tinggi dibandingkan harus membuat pertimbangan oleh diri mereka sendiri.  Individu dengan tipe ini menyukai pekerjaan dimana garis wewenang telah ditetapkan dengan jelas.

Contoh Profesi/Pekerjaan untuk tipe Conventional: Pegawai kantor, statistika, pustakawan, arsiparis, manajer di perusahaan, administrator, dan pekerjaan lain yang sejenis.

Penting untuk diketahui bahwa gambaran minat seseorang biasanya merupakan gabungan dari 6 tipe di atas. Holland menemukan bahwa hampir sebagian besar orang memiliki minat pada beberapa area di atas, namun demikian biasanya individu memiliki minat yang lebih kuat pada sebuah area (tipe) dibandingkan area-area yang lain.  Dengan demikian, dimungkinkan untuk seseorang memiliki area minat utama dan minat kedua

Menurut Holland, area minat yang berdekatan pada figur di atas menunjukkan area yang paling sama antara satu dengan lainnya (contoh, Artistic dengan Investigative dan Social).  Area minat yang berseberangan satu dengan lainnya (contoh, Investigative dengan Enterprising) menunjukkan area yang paling tidak sama satu dengan lainnya.  Area minat yang merupakan pengganti/alternate di sisi yang sama (contoh Realistic dengan Enterprising atau Investigate dengan Social) memiliki sebuah hubungan intermediate/kelanjutan di area tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 5.       Memahami prestasi (achievement).

Menurut Steinberg (1993:78) prestasi (achievement) merupakan kemampuan yang aktual (actual ability). Ini berseberangan dengan potensi, yakni kemampuan yang belum tampak, yang belum teraktualisasikan (laten power). Dengan kata lain prestasi dapat dikatakan sebagai potensi yang mewujud dalam perilaku nyata individu. Perilaku nyata di sini dimaksudkan sebagai sebagai sesuatu yang dapat dicapai individu sehingga hasilnya dapat diamati dan dapat diukur.

Secara garis besar prestasi (achievement) terbagi menjadi dua kelompok, yakni prestasi akademik dan non akademik. Prestasi akademik adalah segala sesuatu yang dapat dicapai individu dalam dalam bidang akademik. Misalnya, nilai rapor dan nilai tes formatif yang diperoleh siswa. Yang termasuk ke dalam prestasi non-akademik di antaranya kemampuan sosialisasi, kejujuran, dan kesabaran yang dapat dibuktikan seseorang dalam perilaku nyata.

Pentingnya memahami prestasi untuk pengembangan karir masa depan merupakan dasar pertimbangan dalam memilih keputusan karir. Secara teori, prestasi yang diraih seseorang merupakan cerminan kecakapannya dalam bidang tertentu. Misalnya, jika dominasi nilai terbaik siswa dalam bidang numerical atau yang berkaitan dengan angka, dapat dikatakan siswa tersebut memiliki kecakapan dalam bidang numerical. Ini berarti pada saat siswa tersebut akan mengambil keputusan karir masa depannya, sebaiknya memilih bidang karir yang ada kaitannya dengan bidang numerical, seperti akuntan dan perbankan.

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memahami prestasi diri sendiri. Pertama melalui model analisis prestasi. Model ini disebut dengan analisis keunggulan dan kelemahan prestasi, terutama dalam bidang akademik. Caranya, tuliskan bidang studi yang dianggap unggul dan bidang studi yang dianggap lemah. Lalu diurutkan, urutan tiga besar terunggul disebut keunggulan dan urutan tiga besar terlemah disebut sebagai kelemahan diri. Kedua, melalui model analisis portofolio. Caranya, kegiatan yang dianggap penting dari hari ke hari ditulis dalam catatan kecil harian. Setelah beberapa waktu, semua catatan tersebut dianalisis. Analisis yang perlu ditonjolkan adalah kegiatan yang dianggap berhasil dan kegiatan yang dianggap kurang berhasil. Lalu diurutkan dari kegiatan yang paling berhasil sampai dengan yang tidak berhasil. Analisis ini disertai dengan analisis faktor pendukung dan penghambat serta permasalahan yang dialami waktu melaksanakan kegiatan. Cara seperti ini penting dilakukan, sebab selain sebagai bahan refleksi dan instrospeksi diri juga sebagai bahan pertimbangan seseorang dalam menentukan perjalanan hidup, terutama perencanaan dan perjalanan karir.

 

E v a l u a s i

 

 

 

  1. Apa yang dimaksud dengan pemahaman diri?
  2. Sebutkan 5 karakteristik diri untuk pengembangan karir?
  3. Sebutkan klasifikasi intelegensi?
  4. Sebutkan karir yang sangat tergantung dengan karakteristik fisik?
  5. Sebutkan hal-hal yang membedakan bakat individu satu dengan yang lainnya?
  6. Sebutkan 7 bakat yang bisa dideteksi dengan tes DAT?
  7. Sebutkan arti minat?
  8. Sebutkan 6 tipe kepribadian Vocational Personality dari John Holland?
  9. Apa yang dimaksud dengan memahami prestasi?
  10. Apa yang dimaksud dengan prestasi akademik dan non akademik?

About cafe14kewirausahaan

bisa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kunjungan

  • 61,475 hits
%d blogger menyukai ini: