//
you're reading...
bimbingan karier xi

BAB III PENGEMBANGAN KEMATANAN KARIR

A.    Pengembangan Kematangan Karir

Layanan pengembangan kematangan karier adalah layanan bimbingan yang berupaya memfasilitasi terjadinya perkembangan kematangan karier siswa. Kematangan karier yang dimaksud adalah kesiapan siswa untuk membuat keputusan-keputusan karier dengan tepat.Adadua dimensi yang perlu dikembangkan untuk membangun kematangan karier siswa, yakni dimensi kematangan karier yang bersifat kognitif dan non-kognitif.

Dimensi kognitif kematangan karier siswa terdiri atas aspek (1) pengetahuan tentang informasi dunia kerja (world-of-work information), (2) pengetahuan tentang kelompok pekerjaan yang lebih disukai (knowedge of preferred occupational group), dan (3) pengetahuan tentang membuat keputusan (decission making).

Dimensi non kognitif kematangan karier siswa terdiri atas (1) perencanaan karier (career planning), (2) eksplorasi karier (career exploration), dan (3) realisme keputusan karier (realism).

Dengan demikian, layanan pengembangan kematangan karier berarti memfasilitasi berkembangnya keenam aspek tersebut pada diri siswa. Memfasilitasi artinya memberi kemudahan kepada siswa untuk mengembangkan keenam aspek tersebut, baik melalui bantuan fisik maupun psikologis.

B.    Kematangan Karir Bersifat Kognitif

1.    Memfasilitasi Perkembangan Pengetahuan Dunia Kerja

Pengetahuan tentang dunia kerja adalah segala informasi tentang dunia kerja. Hal itu penting dilakukan agar siswa mengalami kemudahan dalam memiliki informasi berbagai hal tentang pekerjaan, baik yang diminati maupun tidak diminati. Tujuan proses ini adalah agar siswa memiliki wawasan yang jelas dan luas tentang berbagai pekerjaan. Secara garis besar pengetahuan dunia kerja tercakup dalamlimaaspek.

Pertama, pengetahuan tentang cara orang lain (yang sudah berkarier) mempelajari pekerjaan. Pengetahuan ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi siswa dalam mengidentifikasi dan menentukan pekerjaan yang akan menjadi bidang karier pilihannya di masa depan.

Kedua, pengetahuan tentang cara orang lain (yang sudah berkarier) memahami minat dan kemampuannya dalam berkarier. Banyak cara untuk memahami minat dan kemampuan. Bahkan, di zaman sekarang, minat dan kemampuan dapat dengan segera diketahui melalui berbagai jenis tes. Umumnya, baru sebatas informasi sehingga belum dapat dijadikan dasar untuk menentukan pengambilan keputusan karier. Tentu akan berbeda hasilnya jika cara memahami minat dan kemampuan dalam berkarier digali dari orang lain terutama yang berhasil dalam berkarier. Siswa akan mengetahui cara mengaktualkannnya dalam menempuh perjalanan karier.

Ketiga, pengetahuan tentang persyaratan yang dibutuhkan untuk memasuki sebuah pekerjaan. Pengetahuan ini mencakup persyaratan fisik, administrasi, dan akademik. Bahkan, pengetahuan tentang persyaratan personal dan profesional. Apabila siswa ingin berkarier dalam bidang profesi pendidikan, misalnya guru, ia harus mengetahui bahwa salah satu persyaratan fisiknya tidak mengalami kecacatan yang dapat menghambat pembelajaran, persyaratan administrasinya mengirim lamaran, persyaratan akademiknya memiliki ijazah sarjana kependidikan dengan IPK tertentu.

Keempat, pengetahuan tentang tugas beberapa pekerjaan. Agar siswa tidak gamang dengan pelaksanaan suatu pekerjaan tertentu, ia perlu memiliki pengetahuan tentang tugas dan kewajiban pekerjaan tertentu, terutama beberapa pekerjaan yang diminatinya. Misalnya, rincian tentang deskripsi pekerjaan, dan lama jam kerja.

Kelima, pengetahuan tentang alasan orang lain berganti atau pindah pekerjaan. Pengetahuan ini amat penting terutama untuk mengembangkan dasar-dasar logika siswa dalam memilih pekerjaan yang diminatinya. Dengan berbekal kemampuan ini dasar pertimbangan siswa memilih suatu pekerjaan sebagai bidang kariernya betul-betul berangkat dari pertimbangan logis bukan semata pertimbangan minat saja lebih-lebih jika hanya menggunakan pertimbangan emosional.

2.    Memfasilitasi Pengetahuan tentang Kelompok Pekerjaan yang Lebih Disukai

Siswa diberikan kemudahan untuk memiliki pengetahuan tentang pekerjaan tertentu yang diminatinya. Mungkin hanya satu pekerjaan yang ia minati atau mungkin beberapa pekerjaan. Ini penting dilakukan agar siswa mengalami kemudahan dalam memiliki informasi berbagai hal tentang pekerjaan yang diminatinya. Tujuan mendasar dari proses ini adalah agar siswa memiliki wawasan yang jelas dan spesifik tentang pekerjaan yang ia minati.

Secara garis besar pengetahuan dunia kerja yang lebih disukai tercakup dalam lima aspek:

Pertama, pengetahuan tentang tugas dari pekerjaan yang diminati. Misalnya, siswa mengetahui dan memahami deskripsi pekerjaan, tuntutan kerja, dan kewajiban kerja.

Kedua, pengetahuan tentang peralatan atau perlengkapan yang dibutuhkan dari pekerjaan yang diminati.

Ketiga, mengetahui persyaratan fisik dari pekerjaan yang diinginkan.

Keempat, mampu mengidentifikasi alasan dalam memilih pekerjaan yang diminati.

Kelima, mengetahui risiko-risiko yang mungkin muncul dari bidang pekerjaan yang diminati.

 

3.    Memfasilitasi Pengetahuan tentang Membuat Keputusan

Pembuatan keputusan berarti proses penentuan pilihan. Memfasilitasi pengembangan pengetahuan tentang membuat keputusan berarti proses bantuan untuk memudahkan siswa menentukan pilihan, yang dalam konteks ini adalah pilihan karier. Ini penting bagi siswa agar keputusan-keputusan hidup selama menjadi siswa dapat mendasari keputusan karier masa depannya.

Tujuan upaya ini adalah agar mereka dapat menentukan keputusan kariernya dengan tepat ketika masuk dunia kerja untuk berkarier. Adatiga aspek yang mendasari pengetahuan tentang membuat keputusan karier. Pertama, pemahaman tentang cara dan langkah-langkah membuat keputusan karier. Kedua, dorongan dan aktivitas dalam mempelajari bagaimana orang lain, terutama orang yang berhasil dalam kariernya membuat keputusan karier. Ketiga, kemampuan menggunakan pengetahuan dan pemikiran untuk membuat keputusan karier. Segala pengetahuan yang diperoleh siswa diarahkan agar mereka mampu mendasari keputusan karier masa depannya. Agar keputusan karier tidak hanya didasari oleh minat dan/atau emosi saja, kemampuan berpikir logis perlu dikembangkan sehingga  pengambilan keputusan karier berangkat dari alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

C.    Kematangan Karir Bersifat Non Kognitif

1.    Memfasilitasi Perencanaan Karier

Perencanaan karier adalah aktivitas siswa yang mengarah pada keputusan karier masa depan. Aktivitas perencanaan karier sangat penting bagi siswa terutama untuk membangun sikap siswa dalam menempuh karier masa depan. Tujuan utamanya adalah siswa memiiki sikap positif terhadap karier masa depan terutama bidang karier yang diminatinya.

Ada lima aktivitas yang perlu difasilitasi konselor atau guru dalam perencanaan karier siswa.

Pertama, mempelajari semua informasi tentang karier, mulai dari konsepsi tentang karier, langkah-langkah pengambilan keputusan karier, jenis karier, cara memperoleh karier, cara berpindah karier, dan lain-lain.

Kedua, berdiskusi dengan orang yang dituakan tentang rencana karier masa depan. Orang yang dituakan, misalnya orang tua, kakak, konselor, guru, dan ustad.

Ketiga, mengikuti kursus sesuai dengan bidang karier yang diminati. Misalnya, bagi siswa yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi pada program studi Bahasa Inggris ia sebaiknya memperoleh kemudahan dari pihak sekolah untuk mengikuti atau memperdalam bahasa Inggris.

Keempat, berpartisipasi dalam kegiatan ekstra kurikuler atau bekerja paroh waktu (part time), sesuai dengan karier yang diminati. Misalnya, dikembangkan program magang sesuai dengan minat karier siswa. Kelima, mengikuti pelatihan atau pendidikan yang sesuai dengan minat karier masa depan.

2.    Memfasilitasi Eksplorasi Karier

Eksplorasi karier adalah aktivitas siswa untuk memanfaatkan orang tua, guru, konselor, ahli dalam karier, buku-buku, atau sumber lain yang relevan sebagai sumber informasi karier. Pentingnya eksplorasi karier seperti ini adalah agar siswa mampu memanfaatkan berbagai sumber informasi karier sehingga ia memiliki informasi karier yang lengkap. Ada dua aspek yang perlu difasilitasi konselor agar eksplorasi karier siswa optimal. Pertama, memfasilitasi tumbuhnya keinginan untuk memanfaatkan sumber-sumber informasi karier. Pada aspek ini perlu difasilitasi keinginan dan komitmen yang kuat untuk senantiasa memanfaatkan sumber informasi karier. Kedua, memfasilitasi proses pemanfaatan sumber informasi karier sehingga sumber informasi karier yang berupa manusia seperti guru, konselor dan lain-lain atau benda, seperti buku dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi karier.

3.    Memfasilitasi Realisme

Realisme adalah komitmen untuk memilih karier yang realistis, yakni pemilihan karier yang mempertimbangkan kondisi objektif karakteristik diri sendiri, kesempatan, dan tuntutan lingkungan. Tujuan utama memfasilitasi relisme adalah agar siswa mampu menentukan pilihan karier masa depan secara realistis. Ada empat kemampuan yang perlu dikembangkan pada diri siswa sebagai aspek realisme. Pertama, pengembangan kemampuan memahami kelebihan dan kekurangan diri berkaitan dengan pilihan karier masa depan. Kedua, pengembangan kemampuan menganalisis faktor-faktor yang akan mendukung pilihan karier masa depan. Ketiga, pengembangan kemampuan menanalisis kesempatan yang berkaitan dengan pilihan karier masa depan. Keempat, pengembangan kesadaraan dan penerimaan diri secara realistis atau apa adanya berkaitan dengan pilihan karier masa depan.


 

About cafe14kewirausahaan

bisa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kunjungan

  • 61,475 hits
%d blogger menyukai ini: