//
you're reading...
Uncategorized

BAB I STRATEGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN (BK XI)

A.      Strategi Pengambilan Keputusan

Esensi dari sebuah pengambilan keputusan adalah proses penentuan pilihan (Sharf, 1992:303). Secara alami, manusia akan diperhadapkan kepada berbagai pilihan dan secara alami juga ia dilatih mengambil keputusan dari pilihan-pilihan hidup yang dialaminya. Oleh karena itu sesungguhnya manusia akan terus menerus menentukan pilihan hidup dari waktu ke waktu sampai akhir kehidupan. Proses inilah yang disebut dengan pengambilan keputusan (Sharf, 1992 : 303). Jadi, esensi dari sebuah pengambilan keputusan adalah proses penentuan pilhan. Hanya saja pada kenyataannya ada individu yang mampu dengan tepat mengambil keputusan ada juga yang tidak mampu.

Kenyataan ini terjadi karena berbagai hal. Kenyataan seperti ini terjadi mungkin disebabkan oleh kesalahan strategi yang digunakannya. Oleh sebab itu pada bagian ini dikemukakan strategi pengambilan keputusan, yang di dalamnya dibahas tentang tipe strategi pengambilan keputusan, mengantisipasi sebuah pilihan, dan tahapan pengambilan keputusan.

 

B.      Tipe Strategi Pengambilan Keputusan

Menurut Dinklage (Sharf, 1992 : 305) ada delapan tipe strategi pengambilan keputusan. Empat strategi merupakan cara yang tidak menghasilkan suatu keputusan keputusan, yakni tipe delaying, fatalistic, compliant, dan tipe paralytic. Empat tipe lainnya dipandang sebagai cara yang efektif dalam mengambil keputusan, yakni tipe intuitive, impulsive, agonizing, dan tipe planful.

1. Delaying

Pada prinsipnya tipe strategi ini merupakan salah satu dari model penangguhan atau semacam prokrastinasi. Individu memutuskan bahwa ia akan mengambil keputusan pada waktu yang lama. Termasuk dalam contoh strategi ini adalah siswa yang menunggu sampai kesempatan paling akhir dalam menyelesaikan tugas dan dibiarkannya tugas itu berlarut-larut sampai kehabisan waktu sehingga tugasnya tidak sempat dikumpulkan.

2. Fatalistic

Tipe ini merupakan salah satu tipe yang tidak menentukan piihan. Individu dengan tipe ini tidak melakukan aksi apapun terhadap pilihan-pilihan yang ada. Misalnya, siswa bangun tidur kesiangan dan waktu masuk sekolah tinggal 20 menit lagi. Dalam menghadapi situasi ini ia berpikir dalam waktu 20 menit tidak mungkin cukup untuk mandi, shalat sudah kesiangan, dan jalan ke sekolah 10 menit. Lalu ia memutuskan untuk berdiam saja. Padahal pada situasi seperti ini mungkin tidak usah mandi yang penting cuci muka dan merapikan badan, lalu wudlu dan shalat, setelah itu cari ojeg tercepat, atau lari untuk pergi kesekolah tepat waktu.

3. Compliant

Tipe strategi ini terjadi jika seseorang mengalah pada rencana pihak lain yang telah membuat keputusan untuknya. Ia sangat pasif atau terbebani oleh otoritas figur. Contoh yang amat klasik antara lain: orang tua  memutuskan anaknya untuk menjadi doctor tetapi anaknya tidak mau masuk dunia kedokteran.

4. Tipe Paralytic

Tipe strategi terjadi ketika seseorang sangat takut atau sangat cemas untuk membuat suatu keputusan. Ia merasa tidak mampu memutuskan. Ia mungkin merasa tertekan atau didesak oleh dirinya sendiri atau orang lain untuk membuat keputusan, tetapi takut oleh konsekuensi dari keputusan yang diambilnya.

5. Intuitive

Strategi intuitif merupakan strategi dalam membuat keputusan yang berdasarkan pada perasaan dari pada pemikiran. Hasilnya disebut keputusan intuitif. Keputusan ini mungkin tepat, tetapi tidak disertai atas hasil analisis keunggulan diri seperti bakat, kemampuan, minat, dan lainlain.

6. Impulsive

Strategi impulsif adalah proses pengambilan keputusan yang tidak mempertimbangkan alternatif lain. Pada strategi ini individu begitu menggebu-gebu pingin langsung mengambil keputusan tertentu. Ia tidak mengidentipikasi dan menganalisis alternatif lain.

7. Agonizing

Agonize berarti menyakitkan sekali. Strategi agonizing berarti strategi pengambilan keputusan yang hasilnya sangat mungkin menyakitkan atau membuat orang kepayahan ataucapediakrenakan kurang memiliki informasi yang lengkap tentang keputusan yang diambilnya. Misalnya, seseorang yang paham betul bahwa dirinya ingin menjadi seorang

teknokrat, tetapi ia tidak memahami cabang-cabang keteknikan, teknik apa yang harus diambil. Mungkin ia memperoleh tentang spesialisasi keteknikan dari sekolah tetapi tidak lengkap.

8. Planful

Pada strategi ini, individu dapat membuat perencanaan ketika mengambi keputusan. Ia memutuskan atas dasar perencanaannya itu. Ia mempertimbangkan baik perasaan maupun pengetahuan tentang kemampuan, bakat, minat, dan nilai-nilai dalam membuat suatu keputusan, termasuk keputusan karier.

 

C.      Mengantisipasi Suatu Pilihan

Mengantisipasi sebuah pilihan merupakan proses mengarahkan individu pada suatu pilihan yang tepat. Tiedeman dan O’Hara (Sharf, 1992 :307) membagi antisipasi dalam membuat keputusan menjadi empat proses, yakni eksplorasi, kristalisasi, pemilihan, klarifikasi. Keempat proses ini tidak selalu bersifat sekuensial. Miller dan Tiedeman (1989) menegaskan bahwa tahapan tersebut sebagai panduan (guideline) dalam mengantisipasi suatu keputusan.

1.      Eksplorasi

Eksplorasi yang dimaksud adalah penjelajahan terhadap kemunkinan alternatif keputusan yang akan diambil. Misalnya, pada saat seseorang ingin melanjutkan studi, lalu yang memungkinkan baginya adalah program studi bahasa Inggris danIndonesia, maka ia sebaiknya mengeksplorasi dahulu berbagai hal yang terkait dengan kedua program tersebut. Melalui eksplorasi ini ia mengetahui dengan persis konsekuensi apa yang akan dialami jika mengambil program studi bahasa Inggris dan konsekuensi apa yang akan dialami jika ia mengambil program studi bahasa Indeonesia.

2.      Kristalisasi

Tiedeman dan O’Hara (Sharf, 1992 :308) berpendapat bahwa kristalisasi merupakan sebuah stabilisasi dari representasi berpikir. Pada tahap kristalisasi, pemikiran dan perasaan mulai terpadu dan teratur. Keyakinan atas pilihan yang akan diambil menguat. Definisi tentang alternatif pilihan semakin jelas.

3.      Pemilihan

Sebagaimana perkembangan kristalisasi, pemilihan pun terjadi. Individu percaya atas pilihannya.

4.      Klarifikasi

Ketika seseorang membuat keputusan lalu ia melakukannya. Dalam perjalanannya mungkin ada yang lancar mungkin ada yang mempertanyakan kembali karena kebingungan. Pada saat kebingunan maka ia seharusnya melakukan eksplorasi kembali, kristalisasi, lalu lakukan pemilihan alternatif kembali dan seterusnya.

 

D.      Tahapan Pengambilan Keputusan

Berdasarkan pandangan Asosiasi Psikologi Amerika, Sharf (1992 : 315) menjelaskan sekuensi pengambilan keputusan, yang lebih dikenal dengan tahapan pengambilan keputusan karier.

1.    Mendefinisikan dan menstrukturkan keputusan (defining and structuring the decision) Tahap awal yang harus jelas dalam tahapan pengambian keputusan, terutama keputusan karier, adalah definisi keputusannya. Artinya, harus jelas benar apa yang akan diputuskan. Misalnya, apakah yang akan dipilih oleh seseorang itu persoalan memilih sekolah, mata pelajaran, atau tentang suatu pekerjaan. Pada tahap ini harus ditonjolkan hal yang khusus yang akan diputuskan

2.    Identifikasi aspek-aspek yang relevan (Identify relevant aspects) Jika definisi masalah yang akan diputuskan sudah jelas, proses pengambilan keputusan dapat dilanjutkan dengan proses identifikasi aspek-aspek yang relevan dengan masalah atau definisi keputusan. Misalnya, yang akan diputuskan adalah melanjutkan studi. Maka, aspek yang perlu diidentifikasi antara lain sekolah yang diminati mana saja, keunggulan, dan kelemahan diri apa saja.

3.    Memeringkatkan aspek-aspek penting (rank aspects by importance)Jika aspek-aspek telah teridentifikasi, dilanjutkan dengan memerikatkan aspek tersebut. Jika yang menjadi ukuran adalah minat, memeringkatkan dilakukan dari mulai yang diminati sampai dengan kepada yang kurang diminati. Jika ukurannya gaji, memeringkatkan dimulai dari pekerjaan yang gajinya paling besar sampai yang paling rendah. Jadi, untuk memeringkatkan bergantung pada ukuran peringkatnya.

4.    Identifikasi aspek paling penting yang dapat diterima (Identify theacceptable range for the most important aspect not yet consider) Sesungguhnya, untuk mengidentifikasi aspek paling penting yang dapat diterima sudah tampak pada proses pemeringkatan. Hanya pada tahap ini perlu ditegaskan peringkat teratasnya saja. Misalnya, yang dapat diterima hanya peringkat tiga besar.

5.    Membuang pekerjaan yang karakteristiknya tidak sesuai dengan aspekaspek yang diterima Setelah teridentifikasi aspek-aspek yang dapat diterima, yang tidak diterima dibuang dan yang sesuai dengan karakteristik yang diharapkan diambil sebagai alternatif yang akan diputuskan.

6.    Alternatif untuk dieksplorasi lebih jauh Ditentukan alternatif yang diambil sebagai hasil keputusan yang akan dieksplorasi lebih jauh.

 

 

About cafe14kewirausahaan

bisa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kunjungan

  • 61,475 hits
%d blogger menyukai ini: